LAB KOMPUTER

Belanja IT di Indonesia Capai US$ 10,2 Miliar

>> Rabu, 21 Desember 2011

Dikutip dari Businesswire.com, sebuah lembaga riset bernama Business Monitor International (BMI) memprediksi pada tahun 2015 mendatang, nilai belanja teknologi informasi (TI) di Indonesia bisa mencapai US$ 10,2 miliar.
Hal itu tentunya cukup menggembirakan. Karena dapat mendorong perluasan industri teknologi informasi, membuat pasar semakin kompetitif, meningkatkan penjualan hardware dan software, serta memperluas jasa layanan teknologi informasi. Selain itu juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan pasar teknologi informasi potensial di Asia Tenggara.
BMI berpendapat bahwa faktor pendorong pertumbuhan pasar TI di Indonesia salah satunya adalah karena kenaikan jumlah penggunaan dan kepemilikan komputer. Tumbuhnya permintaan terhadap layanan pusat data serta infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diyakini bisa membuat layanan cloud computing (komputasi awan) akan tumbuh pesat di Indonesia.
Selain itu, tingginya jumlah belanja TI disebabkan karena meningkatnya kesadaran penggunaan TI di kalangan pemerintah, pelaku bisnis, dan konsumen umum untuk mendukung kinerja. Hadirnya aneka perangkat multimedia juga mendorong tingginya belanja teknologi informasi.
Sebagai contoh dari meningkatnya kesadaran penggunaan TI di kalangan pemerintah adalah program edukasi berbasis teknologi informasi (e-learning) dari Kementerian Pendidikan Nasional yang menghabiskan dana Rp 10 triliun dalam dua tahun terakhir. Melalui program e-learning ini, pemerintah berencana menaikkan belanja TI di segmen pendidikan serta menaikkan rasio kepemilikan komputer pelajar dari 1 komputer untuk 3.200 pelajar menjadi 1 komputer untuk 20 pelajar. Berarti, pemerintah akan membutuhkan sekitar 2,5 juta unit komputer untuk 53 juta pelajar di seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri saat ini tengah menjalankan program kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP dan paspor elektronik (e-paspor) yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 6 triliun.
BMI mencatat, tahun ini jumlah belanja TI di Indonesia sebesar US$ 5,4 miliar, naik sekitar 14% dari tahun lalu yang 'hanya' US$ 4,7 miliar. Ditandai dengan meningkatnya pembelanjaan hardware (termasuk komputer) yang mencapai US$ 3,9 miliar. Tahun lalu belanja hardware di Indonesia berkontribusi sebesar 70% terhadap belanja teknologi informasi Indonesia.
Sedangkan untuk pasar aplikasi dan software, BMI memperkirakan penjualan software mencapai US$ 599 juta tahun ini. Sementara itu layanan jasa teknologi informasi (IT services) diperkirakan naik menjadi US$ 880 juta tahun ini.
Layanan jasa berkontribusi sebesar 17% terhadap total belanja teknologi informasi di Indonesia. Layanan cloud computing diprediksi menjadi kunci pertumbuhan vendor teknologi informasi pada tahun ini. Contohnya, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. yang bekerja sama dengan PT Microsoft Indonesia mengeluarkan layanan cloud computing.
Namun pertumbuhan pasar teknologi informasi di Indonesia masih memiliki beberapa hambatan. Masih terdapat kesenjangan digital yang berpotensi penghambat pertumbuhan industri teknologi informasi. Sebab tingkat penetrasi pengguna komputer masih rendah dan terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Saat ini, persentase penggunaan komputer di Indonesia adalah 20% dari jumlah populasi penduduk. Sangat rendah bila dibandingkan Malaysia dan Thailand yang memiliki rasio 40% dari populasi penduduk mereka.
Selain kesenjangan digital, rendahnya kepemilikan akses internet karena biaya internet yang masih tinggi adalah hambatan lainnya. Sehingga mau tidak mau, pemerintah harus berupaya mengimplementasikan proyek broadband nasional secepatnya. Untuk pembangunan broadband ini, pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp 102 triliun.

1 komentar:

tabloidhape 15 November 2016 12.07  

Banyak juga konsumen teknologi di Indonesia

Posting Komentar


Powered by Team